Rasanya seru, aneh bin canggih ketika seseorang yang bergerak di bidang training dan konsultasi pengembangan diri selama lebih dari sepuluh tahun ternyata masih bisa menemukan satu dua hal baru yang dia sadari tentang dirinya. Manusia itu kompleks banget, terdiri dari ratusan lapisan yang saling tertumpuk satu dengan lainnya, sehingga ada hal-hal menarik yang dia tidak akan pernah tahu dan kenali bila tidak digali dengan tepat. Gue udah ceritain beberapa hal di Personal Discovery tempo hari, dan sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk bagian berikutnya.
“I feel neglected,” begitu ucapan yang otomatis meluncur dari bibir ketika beberapa hari yang lalu gue iseng melakukan sebuah eksplorasi diri ke alam bawah sadar via hipnosis. Gue sering menenggelamkan diri dalam keadaan trance, tapi kayaknya ngga pernah mendapatkan pesan sekuat ini. Dalam kepala gue terbayang imajinasi akan sebuah benda yang dibiarkan tergeletak begitu saja di lantai. Pemilik serta orang-orang yang pernah bermain dengannya meninggalkan begitu saja, entah sibuk dengan aktifitas sendiri atau menemukan benda yang lebih menarik lagi.
Jujur aja, itu adalah ucapan yang gue ngga duga-duga sama sekali. Begitu kuat dan mencekam, gue bisa ngerasain seluruh bulu-bulu di tubuh yang merinding, tekanan yang bergulung-gulung dari dada, disusul dengan sensasi mengejutkan di sekeliling kelopak mata. Tidak perlu waktu lama bagi gue untuk sadar kalau kelenjar di kedua sudut mata gue sedang membengkak dan siap untuk mengalirkan bulir-bulirnya. Ngerasain itu semua, gue ngerasa takut dan bingung, sekaligus kagum dengan apa yang terjadi.
Gue baru tahu kalo selama ini gue memiliki sejumlah ‘luka’ seputar rasa ditinggalkan, diacuhkan, tersisih, dibuang, tersingkir, tidak menjadi bagian, tidak kompatibel, atau tidak diinginkan lagi. Sejumlah pengalaman yang setelah gue cek dengan seksama, memang tidak dilakukan dengan sengaja oleh orang-orang yang terlibat di dalamnya, tapi cukup sering terjadi sehingga gue mudah jadi sensitif dan mellow kalau sedang mengalami kejadian yang mengindikasikan perlakuan seperti itu.
Ternyata itu juga yang jadi salah alasan kenapa gue selalu punya huge passion untuk menjadi sahabat bagi banyak orang-orang, khususnya mereka yang merasa dirinya biasa saja, atau tidak dianggap oleh orang lain. Gue banyak habisin waktu mempelajari segala sesuatu tentang manusia agar bisa mencermati orang-orang yang mungkin ingin melukai gue. Di satu sisi, gue ingin bersama-sama dengan sebanyak mungkin sahabat, menemukan kenyamanan di dalam komunitas yang hangat, sekaligus menyembuhkan ‘memar dan lebam’ yang pernah terjadi dalam gue di masa lalu. Di lain sisi, gue juga ingin terhubung dengan begitu banyak orang agar gue selalu punya kesempatan untuk memastikan mereka tidak akan pernah merasa sendirian, terbuang, atau hal-hal sejenis lainnya.
Sepertinya ini adalah salah satu luka klasik yang akan selalu menjadi duri dalam daging. Gue pikir gue sudah berhasil mengurusnya dahulu, tapi ternyata tidak sepenuhnya. Menolong dan menyembuhkan orang lain terasa jauh lebih mudah dibandingkan menyembuhkan diri sendiri. Ucapan “I feel neglected” itu mengalir begitu saja tempo hari, sekalipun berdasarkan pengalaman gue selalu bisa menetralisir ucapan itu, tapi untuk beberapa bulan ini gue ngga punya bukti apapun yang menyatakan sebaliknya.
Pernah ngalamin hal seperti itu?
Ini adalah personal discovery yang mengagumkan, tapi sekaligus berat rumit bin menyusahkan! Ah, kenapa sih ngga bisa tentang hal-hal yang simpel aja, kayak tentang alasan kenapa gue ngga suka wanita kurus, kenapa gue kalau tidur ngga berani matiin lampu, atau kenapa setiap pria wajib daftar Hitman System Mega Seminar secepatnya?
Buat you guys yang males ending dengan mellow dan pengen punya sempilan personal discovery pribadi, silakan coba Gender Estimation Test… sekedar iseng ngecek apakah elo bener-bener berjenis kelamin seperti yang elo duga selama ini.
Popularity: 11% [?]
























