Kemarin malam Jet and Kei cerita tentang kisah seorang cewe bernama Gaby menulis sebuah lagu orisinal untuk mengenang kekasihnya meninggal dunia, bermain gitar dan merekam lagunya dengan handphone, dan kemudian bunuh diri. Katanya kisah tragis itu lagi beredar di internet dengan berbagai versi dan kontroversinya. Berita hot and bombastis, bikin penasaran abis.
So setelah keliling kesana-kemari, akhinya tadi pagi gue ketemu berbagai cerita malang melintang yang diluruskan di sini oleh Detik, berikut rekaman MP3 lagu yang bersangkutan di web ini (yang mencapai rusuh 350an komen!). The acoustic song was quite nice, tapi justru jadi malesin ketika dinyanyiin format full band.
Jadi inget ketika that up to jaman SMP dulu gue super duper benci lagu Indo or any lagu yang pake bahasa Indonesia. Totally sucks karena bahasanya miskin ekspresi, berasa kampung, dan nyaris ngga bisa dibuat enak pelafalannya. Kebencian itu terus berlanjut sampai ke SMA, dimana untuk pertama kalinya gue belajar main gitar dan aktif nge-band. Semenjak dari itu, kebencian itu sedikiiiit berubah karena ternyata lagu Indo lebih enak (baca: gampang!) dimainin. Kunci dan melodinya sebatas gitu-gitu doang, jadi ngga perlu capek-capek belajar. Years later on gue baru tau that kemudahan itu bukan soal lagu Indo-nya, tapi karena emang genre-nya yang tergolong pop music dan catchy tunes.
Semenjak titik itu, mulailah gue sedikit membuka diri terhadap musik-musik lokal. Mau mainin dan pelajarin, walaupun tetep aja kalo nulis lagu harus dalam bahasa Inggris. Semua komposisi orisinal gue berbahasa Inggris karena ya cuman bisa ngalir begitu. Kalo dipaksa untuk ngerangkai nada dengan lafal Indo, langsung mentok. I guess karena ngga bisa ilangin rasa cupu dan non-artsy yang selama ini melekat di persepsi gue tentang lagu Indo. Tapi itu semua berubah beberapa tahun yang lalu berkat sebuah kejadian yang ada hubungannya dengan ngarep. Pendeknya, gue ngarep sama satu sahabat cewek yang suka nulis lagu…
Jadi si cewek yang emang udah beberapa lama akrab ini ngirim sebuah lagu karangannya ke gue dengan alasan minta komentar. Udah lumayan bagus sih, tapi beat dan melodinya masih agak kasar. Karena gue berusaha menanam impresi yang kuat di dia (baca: mengejar!), gue abisin waktu beberapa lama untuk merekam ulang komposisinya dengan aransemen yang lebih halus dan menarik, hahahaha! Nada dan lirik masih orisinal buatan si dia, gue cuman kotak-katik sedikit aja. Di situlah untuk pertama kalinya gue ngga ngerasa mentok berkreasi dengan sebuah lagu yang berbahasa Indonesia.
Alhasil, terbitlah lagu Setia yang gue rekam dalam versi solo akustik dan meriah full band. My first attempt working on Indonesian song, I was very proud. Tapi jauh lebih bangga dan melayang lagi ketika dapet pujian dari si vitamin, mwakakaka.. And then, karena udah ngarep pisan dan ingin terus melipatgandakan impresi, gue tingkatin lagi investasi ngarepnya itu dengan ciptain satu lagu baru dari lirik yang sama di lagu berjudul Setia itu. Di sinilah untuk pertama kalinya gue merangkai sebuah kreasi yang benar-benar orisinal dengan bahasa yang ngga pernah mau gue sentuh itu. Entah karena faktor ngarep yang kelewat tinggi atau memang lagi puncak-puncaknya kreatif, gue cuman butuh waktu dua hari buat menyelesaikan susunan melodi baru berjudul Tiba yang dinyanyikan secara akustik. Si cewek sih kagum dan termehe-mehe (apapun artinya itu!), sementara gue semakin melayang di langit ilusi tingkat tujuh. Setelah itu gue jadi rajin nulis beberapa lagu orisinal lainnya dengan bahasa Indo (sementara dua buah yang berbahasa Inggris udah available online are This Love dan Inside The Outside, and kalo ada yang mau MP3-nya, just let me know).
Canggih, ngga nyangka posisi gue yang sebelumnya super duper benci jadi bisa berubah 180 derajat hanya karena faktor… ngarep! What a powerful demon Ngarep is. Makanya, perlu bisa dikendalikan hingga seminim mungkin dengan bantuan paket All About Ngarep. *asli gue ditodong pake sumpit tajam sama Kei untuk selipin kalimat terakhir di atas*
Aaaanyways, where am I now with Indonesian songs? I love them. Ada banyak band dan musisi lokal yang pinter banget untuk ngerangkai ekspresi kalimat yang seenak denger lirik-lirik berbahasa Inggris. Sebut aja nama-nama besar kayak Dewa, Padi, Coklat, dan Nidji, dan sejumlah band pendatang baru yang kebetulan gue lupa semua namanya. Long live Indonesian music, please tingkatin terus skill-nya dan jangan takut untuk pake metode-metode marketing yang kontroversial seperti cerita Gaby di atas…
Penutup, coba cek Welcome Road, band temen baik gue yang punya single asyik banget. Ngga tau apakah mereka masih aktif apa ngga, tapi yang jelas setiap denger satu single mereka itu, gue jadi ngarep masih bisa terlibat main musik lagi seperti dulu. Keterbatasan waktu dan resource, yah nyerah aja deh. Satu-satunya yang bisa gue lakuin adalah support other friends yang masih lagi getol-getolnya bermain musik. And also check out Semiquaver’s british taste, another great friend of mine in Aussie. Kalo suka sama lagu-lagunya, do send them love, comments and support.
Popularity: 21% [?]
























