I’ve been drawing for as long as I can remember. Mungkin sejak gue umur 3 – 4 taon. Gue rasa salah satu penyebabnya adalah orang tua gue.
Mereka suka beliin buku cerita bergambar, waktu itu jaman-jamannya Seri Pustaka Kecil terbitan Gramedia, buku cerita bergambar buat anak-anak dengan gambar yang super bagus dan heart warming. Dan komik-komik Eropa bikinan Peyo dan yang lain (belum ada komik Jepang waktu itu).
Dan orang tua gue juga sering banget kasih nonton film-film kartun di video Betamax, mulai dari Disney punya (in technicolor), sampe anime robot yang lagi ngetop kayak Voltus V (baca: voltus lima), God Sigma, Goshogun, Mazinger, Jeeq (baca: jek si manusia baja), Gordion, Polimar dan yang lain sebagainya. Gue rasa, hampir semua pria 25 tahun ke atas bisa relate sama pengalaman gue.
Gue selalu terkesima oleh guratan-guratan garis yang sambung menyambung membentuk satu figur yang tadinya gak ada menjadi ada. Gue selalu takjub oleh spektrum gelombang elektromagnetik yang kita sebut ‘warna’. Bagaimana kuning menari ceria dengan merah, bagaimana ungu menangis sedih ditemani biru, bukan sekedar warna tapi somehow.. I can feel them.
Dan gak tau sejak kapan, gue mulai suka menggambar.
Emang sih, semua anak kecil, paling tidak sampai usia 8 tahun, pasti suka menggambar. Buat mereka yang namanya crayon atau pensil warna itu ajaib, bagaimana mungkin dari benda sekecil itu bisa muncul warna-warna menyala? Dan lagi, menggambar itu bagian dari proses belajar mereka. Belajar koordinasi otak dan tangan, belajar menterjemahkan ide, dan menstimuli imajinasi.
Kalau semua anak kecil suka menggambar, lalu kenapa kebanyakan orang setelah dewasa tidak bisa menggambar? Very simple.. they stopped drawing at a certain point in their lives. Seiring bertambahnya usia mereka, sebagian anak jadi lebih tertarik dengan sepakbola atau bola basket, sebagian lagi lebih tertarik dengan sepatu, baju dan make up. Sementara sebagian anak lainnya terus menggambar dan tidak pernah berhenti hingga tumbuh dewasa.
Jago atau gak, ini bukan masalah bakat. Ini cuma masalah jam terbang.
Waktu kelas 5 SD, sementara anak-anak cowok yang lain lagi main layangan, gue lagi bikin komik pertama gue, Oriental Heroes, cerita kungfu cupu dengan gambar super cupu. Waktu SMP, sementara temen-temen gue sibuk main Tamiya, gue lagi sibuk bikin komik 60 halaman, Super Emerald, yang 80% ceritanya asli klon dari Saint Seiya haha.. Komiknya masih gue simpen sampe hari ini dan warna kertasnya udah mulai kuning-kuning termakan waktu.
Dan itu terus berlanjut. Waktu SMA, sementara yang lain sibuk modifikasi mobil atau kebut-kebutan motor, gue sibuk bikin komik bokep nan erotis.. oops.. hehe.. yah namanya juga lagi puber, maklumin lah. Dan kegiatan ‘terlarang’ itu sama sekali gak sia-sia, karena akibatnya gue jadi lebih terampil menggambar anatomi tubuh manusia.
Tahun ‘90an, komik Jepang (manga; dibaca mang-ga) mulai menginvasi Indonesia. Sejak itu, manga jadi bagian dari hidup gue yang gak terpisahkan sampai sekarang. Gue jadi maniak manga. Dah gak keitung komik yang udah gue baca, termasuk serial cantik! Dan itu jelas sangat mempengaruhi proses belajar menggambar gue. Pengaruh yang terbesar adalah Dragonball. Komik favorit no. 1 sepanjang masa buat gue. Dragonball changed my life.
Saking terobsesinya sama Dragonball, waktu itu kerjaan gue cuma gambar Dragonball doang. Gue bisa gambar setiap karakter utama, persis sampai ke garis-garis terdetilnya. Gue sempet juga bikin beberapa komik pendek fan-fiction Dragonball, salah satunya sempet dimuat di tabloid Fantasy. Tabloid anak-anak yang paling ngetop di jaman itu.
Komik favorit gue beberapa tahun belakangan ini: One Piece. Garis-garis yang raw and wild, karakter yang unik dan wacky, cerita yang seru dan orisinil, tapi yang jauh lebih penting: it touches my soul. One Piece bisa ngasih ke gue sesuatu yang dulu gue pikir cuma bisa gue dapetin lewat Dragonball.
Semua ocehan di atas berasa nerd banget gak sih? Hahaha..
Anyway, gue pernah bermimpi untuk jadi komikus profesional yang terkenal. Gue bermimpi ingin bikin karya yang bisa bikin orang merasakan apa yang gue rasakan ketika gue baca Dragonball dan One Piece. The power within you, the spirit of manliness, friendship, freedom and never giving up fighting to save the world.
Gue suka emosi sendiri, kesel gak jelas gitu, kalo ngeliat ada komik bikinan orang lokal dengan gambar dibawah standar dan cerita yang biasa banget. Rasanya gue bisa bikin yang jauh lebih bagus deh. Tapi gue tau gue gak punya hak untuk ngomong macem-macem, karena gue sendiri gak ngelakuin apa-apa.
Setelah beberapa kali mencoba untuk bikin komik dengan serius, gue selalu berhenti di tengah jalan, kehilangan motivasi. Kayaknya gue gak punya ketekunan yang diperlukan untuk bikin komik ratusan halaman. Gue emang menikmati saat-saat gue menggambar, tapi gue selalu lompat dari satu ide cerita ke ide cerita yang lain. Dan gue males buat nebelin garis pensil pake tinta dan bikin background secara detil.
Yah gue tau, itu semua cuma pembelaan diri gue aja. Intinya sih gue emang belum usaha secara maksimal aja hehe..
Gue bukan orang yang paling jago menggambar. Gue juga tahu diri. Kalo gue bilang jago itu adalah masalah jam terbang, maka ada banyak banget orang yang punya jam terbang jauh lebih tinggi daripada gue.
Tapi dengan skill gue yang seadanya, khusus untuk entry blog kali ini, gue persembahkan beberapa hasil goresan tangan gue. Silakan klik kanan dan save target as image di bawah ini untuk download, gue juga kasih 2 wallpaper resolusi 1152×864 bikinan gue. Total size 1,1 mb. Enjoy what you see and post your comment.
Btw, diantara gambar-gambar di tersebut ada beberapa yang gue bikin spesial untuk satu cewek ngarepan gue di jaman-jaman lossy dulu. I think you know which ones haha..
Popularity: 17% [?]
























