Apakah kamu pernah diminta membawakan tas pacarmu? Survey Social Development Service di Singapura mengungkap statistik bahwa 1 dari 4 wanita di sana mengharapkan sang kekasih membawakan tasnya dan 70% pria di sana mengaku bersedia melakukannya sebagai bukti sikap seorang gentleman. Kebiasaan ini sepertinya juga semakin sering ditemukan di Indonesia. Misalnya kemarin salah seorang alumni saya mengirimkan foto candid seorang pria yang membawakan tas kekasihnya. Berikut adalah foto yang sudah saya edit supaya lebih dramatis..




Tulisan iseng namun panjang ini terdiri atas dua bagian, yaitu pembahasan kultur Asia yang terbiasa feminin dan pembahasan konsep gentleman kultur Barat. Bagi saya pribadi, perilaku-perilaku di atas adalah sesuatu yang rasanya tidak tepat, walaupun bukan berarti saya menentangnya 100%. Setidaknya ada tiga reaksi pria ketika saya tunjukkan gambar tersebut. Pertama adalah kelompok pria yang menganggap membawakan tas kekasihnya itu sikap yang merendahkan sang pria. Kedua adalah kelompok pria yang menganggapnya sebagai tanda kecintaan dan kepedulian. Dan ketiga adalah kelompok pria yang menganggapnya sebagai tanggung jawab pria dan pembuktian gentleman. Saya bisa bersimpati dengan kelompok satu dan dua, namun total geleng-geleng kepala dengan kelompok tiga.
Kelompok pertama ada benarnya, saya setuju. Tas wanita diciptakan dengan bentuk dan ornamen feminin karena memang agar terlihat pas dan indah dipegang oleh figur yang feminin, yaitu wanita. Menurut sejarahnya, handbags berawal dari konsep purse atau pouches alias dompet kecil. Bukan cuma bentuknya yang feminin, karena menurut teori psikoanalisa Freud, tas/dompet wanita itu adalah lambang dari rahim dan alat kelamin wanita. Bahkan kata ‘purse’ sendiri merupakan bahasa prokem untuk pudenda atau vulva. Jadi dengan semua karakteristik itu, rasanya seorang pria sangat tidak tepat jika harus menenteng tas wanita. Tentu tidak ada dosa atau pelanggaran moral jika seorang pria membawakan tas kekasihnya, selain terlihat kurang menyenangkan kalau dilihat.
Merendahkan maskulinitas seorang pria? Jelas tidak sampai situ sih. Apakah wanita yang membawakan tas koper/ransel kekasih prianya itu terlihat merendahkan citra femininitas? Tidak juga ‘kan. Jadi saya setuju dengan kelompok ini, hanya saja bukan soal merendahkannya, tapi soal apakah tindakan ini kongruen atau tidak. Kongruen artinya pas, cocok, atau nyaman pada tempatnya. Sesuatu yang kongruen itu biasanya lebih indah atau lebih menyenangkan.

Ya seorang pria bisa jadi terlihat feminin jika membawakan tas kekasihnya, tapi pria sejati yang benar-benar stabil dan secure kepriaannya tidak takut ‘terlihat feminin’ ataupun ‘terlihat gay’ oleh orang lain. Saya tidak menyarankan pria-pria membawakan tas pacarnya bukan agar kamu tidak dicap gay, tapi agar kamu terbiasa menghargai diri sendiri. Hargailah dirimu sebagai pria yang secara alamiah memang memiliki peranan dan energi yang maskulin.
Ini pandangan saya tentang hubungan yang sehat: perlu ada keseimbangan yin dan yang, alias energi fenimin dan maskulin. Wanita adalah figur yang secara alamiah lebih erat dan kental dengan energi femininnya, sementara pria dengan energi maskulinnya. Kedua energi itu perlu terus dijaga dalam figurnya masing-masing agar hubungan bisa berjalan harmonis. Wanita bertanggungjawab menghargai femininitasnya, pria bertanggungjawab menghargai maskulinitasnya. Hidup itu mudah dan indah jika pola tersebut dijaga dengan baik.

Hal tersebut cenderung dilakukan oleh para wanita kosmopolitan sebagai bagian dari ritual ‘Fun Fearless Female‘ mereka. Untuk membuktikan bahwa dirinya wanita modern yang tidak boleh dipandang remeh, mereka mengendalikan pria dengan cara memegang hak sertifikasi seorang gentleman. “Jika kamu membawakan tas saya, kamu adalah Certified Gentleman. Jika tidak, kamu adalah banci!!!” Definisi seorang gentleman ada di tangan seorang wanita, itu adalah sesuatu yang sangat kacau sebagaimana saya akan jelaskan nanti. Tidak heran kini banyak hubungan cinta yang hancur berantakan karena ambiguitas peranan yin dan yang ini.
Respon dari kelompok yang kedua juga ada benarnya: membawakan tas adalah salah satu ungkapan kepekaan sebagai pria yang ingin melindungi dan membantu sang kekasih. Saya setuju sekali, tapi itu hanya boleh terjadi jika dan hanya jika sang kekasih sedang PERLU dilindungi dan dibantu. Ada kondisi-kondisi tertentu dimana bukan saja saya mengiyakan permintaan kekasih untuk membawakan tasnya, tapi saya juga kadang akan berani menyodorkan diri untuk tindakan tersebut. Misalnya jika dia tersandung, jatuh, dan variasi sakit atau bahaya mendadak lainnya. Untuk sementara waktu saya akan membawakan tasnya sampai dia bisa kembali berjalan dengan nyaman atau tidak begitu sakit lagi. Jika sakitnya terus lama mengganggu, ya stop jalan-jalannya dan pulang aja langsung supaya istirahat di rumah, bukannya terus maksa jalan sambil saya tentengin tasnya.
Kondisi-kondisi apa saja yang (menurut saya) kekasih TIDAK perlu dibantu membawakan tasnya:
- jika dia capek dan pegal membawa tasnya yang berat. Prinsip saya: kalo berani masukin segudang barang di tas untuk jalan-jalan, ya harus berani tanggung jawab menentengnya. Jika memang lelah, daripada membawakan tasnya, saya akan mengajaknya duduk istirahat di kafe atau resto.
- Jika dia kewalahan karena membawa banyak kantong belanjaan. Prinsip saya adalah kantong belanjaan itu sama seperti tas: isinya menentukan siapa yang membawanya. Jadi kalo kantong itu berisi pakaian wanita, kosmetik, atau apapun yang menjadi kepentingannya, berarti itu adalah tanggung jawab dia. Sama seperti saya pasti akan bawa sendiri barang-barang kepentingan saya. Kalo dia repot kebanyakan kantong, dia tetap wajib bawa sendiri dan jadikan pelajaran supaya lain kali tidak bisa manajemen timing shopping. Seandainya kantong itu berisi keperluan bersama (seperti belanja bahan-bahan masak), maka saya bersedia membawakannya, terutama jika cukup berat dan melelahkan.
- Jika dia mau pakai kedua tangannya utk browsing item belanjaan di rak, mengetik SMS/BBM, dan termasuk ketika dia sedang ingin fitting baju. Prinsip saya lagi: kalau tas itu bikin sulit beraktivitas, ya ga usah dibeli dan dibawa; kalo maksa pengen membawa, ya bertanggungjawablah dan jangan komplen kalau repot bergerak.
- Jika dia mau ke toilet atau restroom. Saya selalu bingung melihat pria-pria yang berdiri dengan mata kosong di depan koridor toilet sambil menenteng tas pasangannya. Bukannya kalo ke restroom mereka sekaligus pengen touch up merapihkan diri dengan segala bedak, parfum, sisir, dsb ya? Kok si wanita malah menitipkan tas? Masih salah satu misteri buat saya, dan saya berprinsip untuk tidak membawakan tasnya.
- Jika dia hendak berfoto dengan teman-temannya. Prinsip saya: tas itu bagian dari artileri perhiasan wanita, jadi kalau dia mau berfoto ya wajib dia bawa sendiri, bukannya diserahkan pada saya.
- Jika dia menggendong bayi. Hanya karena dia menggendong bayi tidak mengubah bahwa tasnya adalah barang yang feminin dan dia bertanggungjawab untuknya. Prinsip saya: jika tahu ingin berjalan-jalan dengan bayi, dia wajib memilih tas yang nyaman dibawa. Saya bersedia bertanggungjawab untuk tas yang berisi peralatan bayi, tapi tas berisi dompet dan peralatan kecantikan adalah tanggung jawabnya pribadi. Kecuali si bayi lagi rewel sekali, saya mungkin akan menawarkan diri membawa tasnya sejenak. Atau saya beli kereta bayi sekaligus deh, lebih nyaman.

Beberapa kali dalam setahun saya akan dengan sengaja melanggar keenam prinsip di atas dan membawakan tas kekasih saya di sepanjang jalan; saya melakukannya dengan tujuan bercanda, tidak kaku, dan menambah kesegaran yang aneh dalam hubungan. Mungkin dua atau tiga kali saja cukup, sisanya saya jalankan persis sesuai prinsip. Jika ingin memanjakan kekasih, saya lakukan dengan cara-cara yang lain, bukan dengan membawakan tasnya. Saya menyayangi kekasih saya dan dia juga sudah sangat tahu itu sehingga dia tidak perlu meminta-minta pembuktian diri dan kesejatian cinta saya padanya. Wahai pria jomblo, demikianlah seharusnya kriteria kamu untuk calon kekasihmu nanti. Wahai wanita jomblo, demikianlah seharusnya kamu memperlakukan calon kekasihmu nanti.
Itu sebabnya saya sangat menggeleng-gelengkan kepala pada kelompok pria ketiga yang merasa membawakan tas kekasihnya sebagai demonstrasi gentleman dan tanggung jawabnya sebagai pria. Kelompok pria ini, bukan saja mengiyakan ketika diminta, tapi juga sering menawarkan diri dan bahkan sampai memaksa untuk membawakan. Saya tidak mengada-ngada karena saya pernah melihat dengan mata kepala sendiri beberapa sahabat saya melakuan hal tersebut, dan mendengar puluhan cerita sejenis dari banyak teman wanita.

Bagian Pertama – Kultur Feminin Asia
Fenomena di atas bisa ditelaah dari faktor tradisi dan kultur dari bangsa-bangsa Asia, khususnya Cina dan rumpun-rumpun tetangganya. Banyak fitur dari kebudayaan Cina, jika ditampilkan bersebelahan dengan budaya Barat, terlihat bernuansa lembut dan feminin: kerendahan hati, penundukan diri, penekanan pada harmoni, keluarga dan komunitas. Berdasarkan cerita, mama saya dahulu memiliki seorang wanita karir kantoran dan juga bisnis pribadi yang berjalan sekaligus. Tapi setelah pernikahan dengan papa dan kelahiran saya, mama dengan sukarela melepaskan dunia itu sekalipun penghasilannya lebih signifikan dibandingkan papa.
Wanita Asia cenderung lebih feminin dan mengalah dibandingkan ukuran wanita-wanita Barat yang selalu ingin tampil sederajat dengan kekasihnya. Jika sudah menikah, wanita Asia tidak keberatan dengan pembagian peran seperti itu. Seorang wanita Asia bersedia berbagi peran dan ‘mengalah’ di mata publik. Di depan keluarga dan anak-anaknya, keputusan dan tindakan selalu berdasar pada sang suami saja. Seorang wanita Asia berani untuk mengorbankan karirnya demi menemani dan membantu karir sang suami.

Misalnya dengan memanjakan sang kekasih lewat ekspresi verbal yang terlalu manis melankolis (“Aku tidak bisa hidup tanpamu!” dan “Belahlah dadaku, hanya ada dirimu saja!”) atau perbuatan yang terlalu lembut romantis (seperti bersedia menemani kekasih/gebetan kemana saja dan budaya menembak atau meminta persetujuan untuk memulai hubungan). Tradisi wanita Asia menampilkan Feminitas Yang Feminin bisa diseimbangkan dengan harmoni oleh tradisi pria Asia yang juga bersedia menampilkan Maskulinitas Yang Feminin.
Corak femininitas wanita Asia tersebut kemudian perlahan mulai bergeser ketika Cina membuka dirinya terhadap budaya Barat. Saya ambil satu contoh spesifik: misalnya ketika Shanghai tumbuh jadi lebih komersil secara bisnis dan menyukai Barat, para wanita Shanghai pun jadi tumbuh jadi lebih berani, dominan, dan banyak menuntut. Semangat emansipasi wanita diserap dengan melenceng oleh wanita Asia (dan banyak lokal lainnya) sebagai semangat invasi dan ekspansi kekuasaan. Ini saya ambil kutipan Fons Tuinstra, presiden di China Speakers Beurau, “In Shanghai, women have a whole set of techniques to domesticize their men and letting them carry the bag is a way to show the outside world they have succeeded.”

Di budaya Cina modern ini, kaum pria malah semakin terbiasa menerima dan berani menampilkan femininitasnya, berjalan dengan rapih manis, mendandani dan membentuk rambutnya, serta merawat jari dan kuku-kukunya. “Chinese boys are now emotionally more vulnerable than girls. Our boys are becoming more girly. They grow up imitating gender-ambiguous pop icons culture influences instead of trying to take on more traditional male roles,” demikian tulis Sun Yunxiao, seorang profesor di Teenager Research Center, dalam bukunya yang berjudul Save The Boys.
Minimnya keberadaan dan interaksi yang sehat dengan figur pria dewasa (alias ayah) membuatnya seorang anak laki-laki tumbuh menjauh dari hak dan kenyamanannya untuk menjadi maskulin. Hal tersebut masih diperparah lagi dengan “the overprotection of the mother is another factor that makes Chinese boys more feminine,” dijelaskan Sun Yunxiao. Kebanyakan ayah kita sibuk di pekerjaan atau malah sekaligus tidak bertanggung jawab, itu sebabnya segala sesuatu yang kita ketahui adalah hasil ajaran ibu kita yang berenergi feminin. Saya lihat ini terjadi bukan cuma di Cina, tapi juga di seluruh Asia. Termasuk generasi pria Indonesia yang terbukti makin ke sini makin terlihat childish, lembut, dan mellow. Lihat saja daftar lagu-lagu band pria yang sekarang menjamur, penuh sensitifitas dan kegalauan!

Ada banyak sekali tuntutan perlakuan dan fasilitas yang harus dipenuhi oleh seorang pria untuk membuktikan bahwa dirinya Pria Sejati, Pria Dewasa, Pria Bertanggungjawab.. atau dengan istilah yang sering dipakai: Gentleman. Tanpa disadari, percintaan kini menjadi sebuah hak wanita dan kewajiban pria. Itu salah satu alasannya mengapa salah satu teman saya yang berwarganegara Singapura mengaku tidak mau berpacaran. “I could not afford a girlfriend right now, girlfriends were simply too expensive!” katanya.
Bagian Kedua – Kultur dan Makna Gentleman di Barat
Benarkah deskripsi seorang gentleman itu persis seperti yang digambarkan oleh banyak wanita jaman sekarang? Benarkan gentleman adalah pria yang baik, lemah lembut, peduli, dan pengertian pada kekasihnya? Tempo hari saya sudah pernah menulis Mengungkap Arti Gentleman Sebenarnya. Silakan baca dulu artikel tersebut karena tulisan blog ini akan melanjutkan pembahasan dan pemahaman di sana.

Ada alasan yang kuat mengapa ketika menyebut istilah gentleman, wanita sering membayangkan seorang ksatria dengan perlengkapan baju perang besi mengkilat dan kuda jantan putih. Karena memang demikianlah gambaran gentleman yang sebenar-benarnya, yakni kurang lebih pada tahun 1200an lalu. Di era itu, istilah gentleman berarti seorang pria yang mapan secara finansial alias tidak perlu bekerja untuk menghidupi dirinya lagi. Kekayaan seorang gentleman didapatkan dari dirinya (atau ayahnya) yang bekerja sekian tahun sebagai prajurit/ksatria kerajaan yang berperang, menginvasi kerajaan seberang, dan membunuh atas nama Raja untuk tujuan-tujuan politis. Kekayaan itu bisa cukup besar sehingga dia membeli banyak tanah dan properti untuk disewakan, pensiun dari keprajuritan dan akhirnya menurunkan kekayaan tersebut pada anak-anaknya. Mereka terlahir langsung sebagai gentleman alias para pria bangsawan yang memiliki status/prestise terhormat karena kekayaan dan kepemilikannya.
Jadi pada saat itu gentleman mengacu pada jenis ikatan pekerjaan kerajaan, keadaan ekonomi, status sosial seseorang di masyarakat. Mereka biasanya adalah pria yang keras brutal (jika ia masih generasi pertama yang terlibat dalam peperangan), kompetitif, dingin, penuh perhitungan, dan hidupnya eksklusif alias tidak sembarangan bergaul dengan kelompok yang lebih rendah dari mereka. Para gentleman generasi pertama (yang masih sempat bekerja sebagai ksatria/prajurit) tentunya berkarakter kompetitif dan keras. Sementara generasi kedua dan seterusnya sudah hidup dalam gaya hidup yang elit, mewah dan serba nyaman. Seperti pepatah di Cina, “The first generation builds the wealth, the second generations lives like gentlemen.”
Saya ingin kamu membuka mata lebar-lebar. Jelas penggunaan istilah gentleman aslinya tidak terhubung dengan kebaikan, kelemahlembutan, atau pengertian seperti yang beredar secara populer sekarang ini. Istilah ‘gentle‘ pada gentleman itu berarti memiliki ‘darah biru’ atau kelas sosial yang terhormat, BUKAN artinya baik atau lembut. Jika saya melirik ke budaya timur, konsep gentleman yang serupa juga terkandung dalam Confucianism dalam istilah j?nz? yang berarti ‘son of a ruler‘, ‘prince‘ atau ‘noble‘. Itu sebabnya ucapan “Ladies and Gentlemen” itu sebenarnya adalah panggilan penghormatan kepada ‘Tuan dan Nyonya’ yang memiliki pengaruh tinggi di masyarakat, bukannya sebutan biasa yang diberikan kepada sembarang pria dan wanita atau bapak dan ibu seperti yang kebanyakan kita pikir.
Nah, perhatikan hal-hal di atas dengan seksama. Ada satu hal penting yang sangat menarik. Sadarkah kamu bahwa penyebutan gentleman di sana tidak pernah tersangkutpautkan dalam hal interaksi pria-wanita? Mereka menjelaskan gentleman sebagai sesuatu yang maskulin, independen alias terlepas dari unsur keterkaitan dengan wanita. Gentleman digambarkan sebuah label yang pria pakai untuk mengenali dan menghormati pria-pria lainnya di tatanan kerajaan, politik, ekonomi dan bisnis. Gentleman adalah ukuran seorang kewibawaan pria saat diteguhkan dan dibandingkan dengan sekelompok pria lainnya.

Pasti ada banyak faktor yang terjadi, dan salah satunya adalah The Reform Act 1832 yang memicu perubahan keadaan politik-ekonomi Eropa. Istilah gentleman tidak lagi mengacu pada status kemapanan, melainkan bergeser pada potensi, edukasi, dan perilaku seseorang. Dalam revolusi perdagangan dan industri di tahun 1700-1900an, istilah gentlemen juga diperlebar kepada para pria dengan profesi yang dianggap membutuhkan intelektualisme tinggi, seperti pekerja hukum, medis, dan juga pedagang besar alias businessmen. Jika sebelumnya gentleman adalah peringkat yang diberikan hanya pada orang yang bekerja untuk kerajaan atau terlahir di keluarga yang elit, kini berubah pada kalangan menengah yang mampu berinteraksi dan berfungsi dengan baik di masyarakat umum. Berikut saya kutip dari buku Guide For Modern Gentleman:
“A gentleman was originally a man who was ‘gentle’- meaning someone who had no need to work. The word evolved along with the economic system. The gentry evolved a system of ethics to avoid being slaughtered by their serfs as was happening elsewhere in Europe. This involved treating others with respect, and cultivating a specific form of modesty. This was not true modesty but just acts involved in establishing status by making great play of being disinterested in it.”

Jadi definisi seorang gentleman sudah melebar termasuk pada siapa saja yang bisa mencitrakan kepribadian yang baik, sopan, tidak mengambil keuntungan sepihak, mengalah, tidak memaksakan kehendak, dsb. Para gentleman yang orisinal memang punya nilai-nilai demikian dalam keluarganya, namun kini keelitan mereka jadi tercemari oleh orang-orang melakukan pencitraan agar dianggap sebagai seorang pria yang berkelas alias gentleman. Sebelumnya gentleman hanyalah pria-pria keras, kuat, petualang, pejuang, dan terhormat yang hidup dengan nilai-nilai elit kebangsawanan. Semenjak pasca reformasi tahun 1800an itu, kemurnian status gentleman itu dinodai oleh pria-pria yang gemar mengenakan topeng-topeng moral untuk mencapai pengakuan dan kepentingan pribadinya. Dan tidak heran hari ini, lebih dari 200 tahun kemudian, sudah jadi kebiasaan mendarah daging bagi banyak pria untuk berpura-pura gentleman demi menggaet lawan jenis.

Kebiasaan pencitraan diri dan peningkatan kesadaran akan feminitas.. ini memang terkesan simplistik, tapi sepertinya kedua hal tersebutlah yang mendorong istilah gentleman hingga akhirnya di era modern ini jadi semakin terfokus pada penataan sikap dan pola perilaku pria terhadap wanita. Tekanan dari kaum feminis yang sudah menginfiltrasi berbagai media massa semakin membuat kaum pria terpojok dan terus berusaha ‘memperbaiki kesalahan-kesalahan maskulinitasnya’ yang dahulu penuh tercoreng dalam penindasan akan figur wanita.
Banyak pria di seluruh dunia menyadari keburukannya ini, meminta maaf dengan berbagai cara, serta memulai awal yang baru dengan standar baru yang kelihatannya lebih indah: yaitu validasi standar (alias menyenangkan dan mengikuti) dari kaum wanita. Entah sejak tahun berapa dan sudah lewat berapa ratus generasi kaum pria berusaha menebus kesalahan nenek moyang kita yang melukai wanita. Tapi melihat sistem dinamika percintaan modern ini, sepertinya kaum wanita masih belum bersedia menyudahi drama propaganda dan dendam amarahnya.

Sementara bagaimana dengan sang wanita? Mereka menginginkan seorang pria gentleman. Mereka berekspektasi agar pria bisa membuktikan dirinya sebagai pria dengan daftar citra perilaku yang luar biasa panjangnya. Tapi apakah yang harus mereka lakukan untuk layak mendapatkan gentleman itu? Jika wanita modern menuntut pria menjadi sesuai standar gentleman yang ditentukan oleh wanita, bolehkah pria modern menuntut wanita menjadi sesuai standar lady yang ditentukan oleh pria? Atau dengan pendek, apakah seorang wanita juga bersusah payah mencitrakan dan membuktikan dirinya sebagai seorang lady agar layak dan seimbang didekati oleh seorang gentleman? Biasanya tidak.. saya ulangi, biasanya tidak.

Jika menuruti artian gentleman sebenarnya yang sudah saya kupas dari tadi, jelas tidak. Bisa terbayangkah oleh kamu sosok seorang ksatria perang berbaju zirah perak berjalan dengan memegang pedang terhunus di tangan kanannya serta menjepit sebuah handbag merah muda milik sang kekasih di bahu dan lengan kirinya?
Ada tiga poin utama yang saya sajikan dalam sentilan ringan tapi panjang ini. Ini bukan tulisan serius ataupun tulisan ilmiah; hanya sebuah sentilan untuk membuka wawasan dan pemahaman.
Pertama, hargai peranan/energi kamu masing-masing dalam sebuah hubungan cinta. Pria bertanggungjawab untuk energi maskulin, wanita bertanggungjawab untuk energi feminin. Memang sesekali pria perlu mengaktifkan sisi femininnya, tapi lakukan dengan alasan yang benar dan kadar yang tidak berkelebihan.. sebagaimana wanita juga perlu mengaktifkan sisi maskulinnya dengan ukuran yang sama. Jika kamu mengacaukan pembagian peranan dan energi ini, maka jangan heran hubungan cinta kamu jadi berat atau kurang menyenangkan. Seorang wanita yang memintanya pasangannya membawakan tas tangannya, padahal dia sendiri tidak keberatan atau terganggu dengan tas tersebut.. itu adalah tindakan yang tidak bertangungjawab dan mengacaukan keharmonisan yin-yang.



Ini bukan kritik sosial, melainkan sebuah wacana untuk introspeksi diri dan membuka pikiran. Banyak wanita Asia kini jadi oknum yang paling sering meminta/menuntut istilah gentleman (yang adalah istilah kaum Barat), padahal di negara Barat sendiri gentleman tidak berarti seperti yang mereka maksudkan. Interpretasi atas emansipasi feminin di Asia jadi lucu dan melenceng. Karena bahkan wanita Barat pun, yang notabene lebih erat dengan akar budaya gentleman, tidak pernah menuntut sikap ‘membawakan tas’ dari pasangannya. Menarik yah?
So beloved ladies and gentlemen.. saatnya berubah!
Oh ya, kalau kamu ada lihat pria yang bawain tas pacarnya, twitpic dan mention ke saya yah.
Salam revolusi,
membawa dgn tujuan membantu sih gpp, membantu dlm artian si cewe lg kewalahan, tp pic2 di atas gk menunjukkan kondisi itu, malah sebaliknya, kedua tangan si cewe kosong melompong gk megang apa2, saya prihatin *gaya sby* dgn pasangan yg berlaku demikian.
Yup kata kuncinya adalah membantu.. seperti yang sudah saya jelaskan di atas, itu terjadi jika sang kekasih memang dalam keadaan yang perlu bantuan.
Another shocking post from Lex…
Pengalaman, waktu gue lagi nge-FU, gue pernah dapat yang beginian…
Gue tolak, karena gentleman bukan berarti ‘kuli’ man (:
‘kuli’ man.. hehehe!
panjang bener.
setuju banget. untung sampe sekarang belum pernah. heuheuheu
kalo ngeliat foto2 di atas, malahan cowoknya yg tampak feminin. *tepok jidat*
Panjang karena nulisnya iseng.. jadinya panjang deh.
well said lex! Orang yang bawain tas cewek berarti harga dirinya cuman sebatas itu aja pftt
Kalau memang perlu bantuan, tidak masalah.. tapi kalau nawarin diri dan memaksa, nah itu baru menyedihkan.
hahaha, cukup 2 kata..! mantap lex..!!!
Thank you!
Very nice artikel lex..
Isinya MENAMPAR kaum cowo yang belakangan ini sok gentleman.. Kebetulan gw emang ga pernah mau bawain tas cewe gw kecuali dalam kondisi urgent dan itu cuma sementara aja
Kalo perlu dibikin jadi e-book biar tambah banyak cowo yang ngerti arti gentleman yang sebenernya
Ga perlu jadi e-book lah.. ini aja udah cukup panjang.
OK…mantaff master lex… artikel nya panjang but yg panjang2 itu mmg lebih asiiikk
, inspiratif!
Hahaha, thank you!
Miris ngeliatnya,
ada cowo lossy yang MAU AJA iketin sepatu cewenya di jalan?
kasihan tuh cowo, mental cowo sampah yang mau diinjek2 cewe..
Yah yang itu memang keterlaluan banget..
Bawain Tas itu bukan gentleman tapi gentle man
Word..
wah analisis yang cukup komprehensif tapi menurut saya banyak konsep-konsep yang “dipaksakan” buat menjelaskan pendapat kamu, bahwa bawain tas tidak sama dengan gentleman. saya mau juga kasih komentar, semoga pendapat saya bisa diterima dengan lapang dada dan tangan terbuka tanpa harus diedit atau tidak dipost-kan.
1. Seperti yg kamu jelaskan panjang lebar, konsep “gentleman” berasal dari negara-negara Barat, sedangkan dalam prakteknya seperti yang kamu tulis, dan dibuktikan dengan foto-foto, membawakan tas cewe hanya terjadi di negara-negara Asia. Saya sering berkelana ke negara-negara Barat tapi gak pernah liat cowo bawain tas cewe dengan alasan biar “keliatan” atau “dikatakan” gentleman. Kamu juga bilang ksatria zaman dulu sampai manusia Barat masa kini gak pernah keliatan bawain tas perempuan usia produktif (yg sering saya liat laki-laki yang bantu nenek-nenek bawain tas belanja). So kesimpulan sementara gak ada hubungan antara bawain tas dengan konsep biar keliatan atau disebut gentleman, karena keliatannya kelakuan pria-pria Asia membawakan tas pacarnya bukan mencontoh apalagi mencontek orang-orang bule.
. Sama seperti ketika kamu masih jomblo lalu menyaksikan temen kamu yang lagi pacaran saling menyuapi makanan di sebuah restoran, kamu bisa bilang it’s sweet atau mencemooh sebagai norak dan kekanak-kanakan. Ada banyak cara untuk menjelaskan pada teman-teman kamu apa arti “gentleman” tanpa harus memakai contoh cowo yang bawain tas cewenya.
2. Darimana kamu tahu kalau bawain tas cewe merupakan upaya menunjukkan sisi feminin seorang cowo sementara kamu gak pernah melakukan survey yang melibatkan cowo-cowo yang membawakan tas cewenya? Mungkin lebih tepatnya banyak cowo-cowo yang berusaha mengkombinasikan “maskulin” vs “feminin” supaya bisa dibilang cowo metroseksual, tapi apa daya mereka gak sekelas (dan setajir) David Beckham atau Ryan Seacrest jadi interpretasi metrosexual ya sungguh mengecewakan seperti yang banyak terjadi pada cowo-cowo Indonesia jaman sekarang (mis dlm hal model rambut, gaya berpakaian dll). Anak-anak muda Generation Y yang gagal, yang mengutamakan penampilan (pake duit ortu atau pacar pulak) tapi minus prestasi. Selebriti seperti Beckham atau Seacrest, atau bahkan Lady Gaga yang bereksperimen jadi cowo untuk publisitas album terbarunya, melakukan itu karena popularitas dan karena mereka pengen jadi trend setters. Orang-orang suka mencemooh Justin Bieber — atau personil grup smash di Indonesia — banci atau gay, tanpa mereka sadari hal itu membuat popularitas Bieber bertahan (ya iyalah kalau gak ada yang ngomongin artinya artisnya gak laku dong). Jadi saya gak ngerti apa hubungan berperilaku “feminin” dengan bawain tas perempuan. Sepertinya kamu harus menjelaskan lebih jauh menurut kamu perilaku feminin yang pantas bagi cowo itu seperti apa supaya jelas gitu.
3. Kalau masalah prilaku cowo-cowo masa kini yang diharapkan berperilaku seperti “gentleman” spt membukakan pintu, antar jemput pacar dsb, saya kira itu hubungannya dengan lingkungan dimana dia dibesarkan. Dan rasanya gak adil kalau kamu bilang bahwa itu disebabkan kedekatan anak laki-laki dengan ibu atau perempuan lain dalam keluarga. Memang seperti yang kamu bilang pengaruh ibu lebih dominan dalam keluarga Indonesia, karena dari kecil anak-anak Indonesia diajarkan bhw kewajiban mendidik anak diserahkan ke ibu sementara tugas bapak mencari nafkah. Coba kamu buka-buka lagi buku bacaan pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD kelas 1, 2 dan 3 dst, yang terbitan Depdiknas. Saya seorang perempuan non-tradisional yang menentang tradisi seperti ini, tanpa harus menjadi feminist yang kebablasan. Saya sendiri sangsi apakah kamu bisa mengubah tradisi itu ketika kamu berkeluarga karena kamu juga dibesarkan, dan berakar, dalam tradisi yang sama, dan mungkin gak punya contoh pria atau ayah Indonesia yang ikut mendidik anak-anak bersama-sama ibu. Kalau di negara-negara Barat kamu akan banyak menemukan bapak-bapak yang bermain bersama anak-anaknya, pergi belanja ke pasar sama anak laki-lakinya (kalau di Indonesia perempuan yang bertugas belanja kebutuhan sehari-hari kan?), bantu bikin PR, masak bareng, nonton TV bareng biar bisa menjelaskan apa yang terjadi di film dll. Tapi ya gak semua, tergantung orangnya juga.
4. Kalau kamu liat foto-foto cowo yang bawain tas cewenya seperti di post kamu, sepertinya itu hanya terjadi di “dunia mereka berdua” sementara kamu dan orang-orang yang iseng men-twitpic kejadian tersebut adalah voyeurs atau peeping toms. Tanpa berusaha menafikan apa yang sudah kamu tulis, saya lebih suka mengambil sisi praktisnya aja: kalau memang si pria gak keberatan, orang tua sanak keluarga kedua belah pihak gak protes, ya biarkan saja. Itu kan hanya terjadi di dunia mereka berdua, sedangkan kita-kita cuma numpang lewat saja di dunia mereka. Siapa tahu itu merupakan tradisi keluarga, dimana anak laki-laki dididik untuk membantu membawakan tas ibunya, dan ketika berkencan mereka memperlakukan pacarnya seperti ibunya. Siapa tahu lho, saya dan kamu kan gak pernah survey langsung sama cowo-cowo yang bawain tas cewe — kita semua cuma voyeurs aja yang menyaksikan dan memberi komentar positif dan negatif, aka “kepo”
Ah, gitu aja deh, cape ngetiknya …
IMHO, maskulinitas seorang pria bukan diukur dari kesediaan/ ketidaksediaan dia membawakan tas perempuannya. Lebih jauh dari itu, maskulinitas seorang pria sebenarnya dinilai dari tindakan” yg lebih kompleks. Saya bukannya begitu saja sepakat dg statement bahwa “pria membawakan tas pasangan perempuannya dengan alasan gentlemen totally wrong” yaa.. Saya juga tidak sepakat dg statement ini. Ketika seorang pria bersedia membawakan dg ikhlas tas pasangannya saya kira itu suatu bentuk perhatian yg dalam kondisi ini (mungkin) si pria melihat si perempuannya terlalu capek dan berat membawa tasnya. Disepakati atau tidak, perempuan seringkali bertindak tidak logis dg membawa isi tas di luar kemampuannya. Pada akhirnya, pria’lah yg turun tangan untuk membantu.
Laki” tidak boleh membawakan tas perempuannya dengan alasan gentlement ini menurut saya sama dengan Saudara bilang: sebaiknya perempuan di dapur dan laki” bekerja. Ini bukan kodrat saya pikir. Ini hanya jebakan mindset semata. Sama dengan ketika kita bilang laki” homo biasanya menggunakan sendal berwarna putih ketika berpergian. Totally wrong! Ini hanyalah sekedar mindset stereotype belaka, Bung
Word, brother..
wah..! lex diprotes sm cewek feminim yg maskulin dan cowok yg feminim yg “rada2″ metrosexual ala boyband, haha..
santai sj lex, itu hanya segelintir cowok (bukan pria) yg belum paham dengan mindset PRIA SEJATI..
Setuju banget nih…
Menurut gw kita memang harus tanggung jawab sama diri masing – masing dalam hal bawaan kita masing – masing, kecuali memang barang itu isinya keperluan bersama…
Gw banyak belajar dari web ini dan hasilnya nyata kok…apalagi gw ikut seminarnya…wah mantablaaaah…sukses selalu buat hitman system
oh, bener juga ya, mungkin aja ntar bisa jadi trend.
tapi ya tetep aja UNTUK SAAT INI ga enak diliat.
knapa juga yang harus dibawa itu “tas cwe”,,,kl berat.beli kresek kek, trus isinya dipindahin trus cwonya yg bawa….gila, stress bgt tuh cwe2…gw sbg cwe aja miris ngeliatnya.
Mantep banget nih jawabannya Alicia. Gue suka. Semoga bisa menjadi masukan yang berguna bagi anak-anak HS lainnya. Tolong dibaca tulisan seorang cewek open minded dan pinter ini. Renungkan baik2. Bawain tas pasangan itu tidak melanggar norma susila masyarakat. Ini sama kayak cewek bawain bola basket cowok, traktir cowok, dan anter jemput cowok. Contoh yang melanggar norma susila masyarakat: cowok pake lipstick atau pake rok mini.
Gue yakin lu juga pasti akan teriak “Kekanak-kanakan!” atau “Aneh!” kalo ngeliat cowok-cewek main kuda-kudaan dan lalu kalian buat artikel lagi. Beberapa hari yang lalu gue pernah ngeliat Satpam marahin orang pacaran maen pangku2an padahal nggak ngapa2in. Bagi Satpam itu “haram!” Tapi apakah itu haram bagi yang bersangkutan? Yang bersangkutan malah enjoy aja kok :3
Begitulah orang Indonesia. Suka komplen tanpa mengerti apa2.
As long as both parties enjoy, why complaint?
So kesimpulannya: selama tidak melanggar norma susila masyarakat, kita biarkan saja mereka bermesra-mesraan oke?
Respon untuk Neo.
Memang tidak ada yang bilang bawain tas pasangan itu melanggar normal susila kok. Siapa yang bilang? Bagian mana dari tulisan saya yang menyatakan demikian? :p
Saya sering kok main kuda-kudaan, dorong-dorongan atau sejenisnya dengan kekasih saya di tempat publik. Malah saya menganjurkan pasangan untuk sesekali melakukan permainan public display of affection seperti itu. Sepanjang dilakukan sebagai permainan dan seru-seruan, silakan saja. Yang jadi inti masalah dengan ‘membawakan tas’ dalam tulisan saya ini adalah itu sering/banyak dilakukan sebagai TUNTUTAN, KEWAJIBAN dan DEMONSTRASI KEPRIAAN. Nah itu baru cukup ‘bermasalah’. Itu yang saya sorot dan saya bedah, bukannya apakah para pria itu melakukannya dengan senang dan bahagia.
Jika kamu tanya pada para warga negara Korea Utara, apakah mereka bahagia berada dalam rezim otoriter pemimpinnya, mayoritas jawaban mereka adalah, “Bahagia sekali. Dan otoriter apanya? Kehidupan di sini sangat sejahtera!” Tapi kita semua di belahan dunia lain bisa melihat bagaimana negara itu penuh dengan kekerasan dan penindasan, sekalipun para warganya merasa senang dan bahagia.
Saya komplen dan tidak mengerti apa-apa?
Waduh, justru komentar kamu inilah yang komplen tanpa mengerti, atau setidaknya menurut saya, kamu mengerti tapi agak salah mengerti maksud tulisan ini.
Tapi tetap saya berterima kasih atas partisipasi kamu menuliskan pendapat pribadi. Salam kenal juga!
Terima kasih temans. Check out these fun facts about Beckham, taken from People magazine online, http://www.people.com/people/david_beckham. Ini salah satu contoh bagus untuk menjelaskan reply saya yang panjang lebar kemaren2. David Beckham pake CD istrinya, mencat kuku dengan cat kuku istrinya, tapi orang tetap liat dia sebagai manly man bukan “gentle man” ataupun “gentleman”, still married to Victoria and have a baby daughter recently, dan gak lantas berubah jadi gay bahkan setelah difoto utk sebuah cover majalah gay dan jadi gay icon. Eh, dia bilang, dia deket sama ibunya lho … tapi gak jadi kebanci-bancian kan pas dah dewasa, bahkan dia bilang dia merasa nyaman dengan sisi feminin-nya? so he’s definitely an exception to Lex’s rule about gentlemanship.
=======================
David Beckham: Five Fun Facts
* David Beckham takes after his mother, Sandra, who is prone to crying. “My dad’s sort of a man’s man, but I’ve got more of my mum’s personality,” he tells Sports Illustrated. “She’s a lot softer, a lot more affectionate. We both get really emotional.”
* There is a gold-covered bronze statue of David Beckham in a Thai Buddhist temple, a 10-ft. statue built of chocolate in Tokyo, and his picture adorns a Japanese chain of beauty salons.
* In a 2004 celebrity nativity scene at Madame Tussauds in London, wax figures of David and Victoria Beckham depict the couple as Mary and Joseph. George Bush is one of three wise men; Hugh Grant is a shepherd; and Kylie Minogue is an angel. A Vatican spokesman told the London Times it was “in very poor taste.”
* After posing for the cover of Attitude, an English gay magazine, David Beckham, who is known for wearing his wife’s nail polish and underwear, tells Sports Illustrated that “being a gay icon is a great honor for me. I’m quite sure of my feminine side, and I’ve not got a problem with that at all. These days it’s the norm, and it should be.”
* The frequent English magazine and tabloid coverboy posed on the cover of American Vanity Fair shirtless in July 2004, wearing a string of Dolce & Gabbana-designed rosary beads. Sales of rosary beads consequently spiked in the U.K., reported the BBC.
Respon untuk Alicia.
Memang tidak ada hubungannya, justru itu yang saya sampaikan lewat entri ini. Yang sering bilang ada hubungannya adalah pihak wanita (seperti screenshot YahooAnswer yang saya tampilkan di awal) yang komplen ketika pasangan tidak mau membantu membawakan. Kamu sepertinya kurang menangkap tulisan ini, jadi silakan baca ulang dengan santai. Saya membagi jadi dua bagian, yaitu pembahasan kultur Asia dan kultur Barat. Kritik saya adalah demikian: wanita Asia adalah oknum yang paling sering norak meminta/menuntut sikap ‘gentleman’ (yang adalah istilah kaum Barat), padahal di negara Barat sendiri ‘gentleman’ tidak berarti seperti yang mereka maksudkan. Bahkan wanita Barat sendiri, yang notabene lebih erat dengan akar budaya gentleman, tidak pernah menuntut sikap ‘membawakan tas’ dari pasangannya.
Jelas saya sudah melakukan survei kecil-kecilan, plus saya sendiri juga hidup di lingkungan budaya yang menormalkan dan bahkan mendorong para pria berlaku demikian. Saya dikelilingi sahabat, rekan, dan kenalan pria yang terbiasa bersikap demikian. Jadi tulisan ini adalah hasil analisa dan diskusi santai seumur saya hidup sampai hari ini. Tentu pria-pria tersebut tidak pernah menyatakan dengan bahasanya, “Saya berusaha nunjukin sisi feminin dari kepriaan saya,” atau komentar sejenisnya. Tapi hampir semuanya meresponi bahwa mereka melakukan seperti itu sebagai adaptasi dari para wanita yang semakin menginginkan pria yang sensitif dan mengayomi dsb (yang merupakan nilai-nilai yang berbau feminin).
Nah, membawakan tas hanyalah salah satu interpretasi dari para pria-pria itu sebagai bukti sensitifitas dan pengayoman. Bukan saja itu kurang kongruen, karena seolah-olah pria harus membuktikan kepriaannya pada wanita, dan juga membuat dan melatih pria itu jadi lebih bersifat feminin dalam sebuah hubungan. Seperti saya bilang, sikap feminin / kelembutan / pengayoman dsb dari seorang pria itu wajar saja, tapi sebaiknya dilakukan JIKA dibutuhkan.. alias ada terms and conditions-nya. Bukannya jadi sebuah keharusan dan kewajiban yang nyaris setiap saat dilakukan, atau malah jadi PEMBUKTIAN gentleman/kepriaan sang pria.
Memang benar itu kebiasan-kebiasaan itu adalah hasil nurture alias pembudayaan. Dan memang benar tidak semua orang tunduk pada budaya itu. Saya setuju dengan kedua poin kamu kok. Saya tidak pernah bilang semua pria atau semua wanita berlaku sama; saya hanya mengacu pada kelompok-kelompok tertentu saja yang melakukan hal-hal tersebut.
Tulisan ini adalah wacana yang MENGANGKAT TOPIK tentang pria yang membawakan tas kekasihnya. Dalam wacana, perlu ada materi nyata yang perlu diangkat dan diulas, dan kebetulan foto-foto itulah yang saya pilih sebagai ‘contoh nyata di dunia nyata’. So bukannya saya sibuk memusingkan atau memprotes mereka.. saya hanya MENGANGKAT TOPIK PERILAKU-PERILAKU SEPERTI yang mereka lakukan. Jika bahasanya terasa seolah saya nosy dan cerewet, well itu sengaja saya pilih nada demikian supaya agak lebih santai dibacanya, bukannya jadi sebuah paper akademis.
Memang ada banyak cara untuk menjelaskan arti gentleman, seperti sudah saya lakukan di tulisan sebelumnya. Dan saya kali ini melanjutkan pembahasan di tatanan yang lebih spesifik dan nyata di kehidupan sehari-hari, yaitu perilaku pria-pria pembawa tas kekasih.
Thank you for sharing what you think on this subject. Dan seperti respon saya di atas, kamu dan saya ada di pihak yang sama kok.. Dan saya tidak ada edit tulisan kamu ‘kan.
Salam kenal dan silakan berkunjung lagi.
jawabanmu kren bgt Lex..
gue suka..
Hehehe, thanks dude..
begitulah Lex, selalu menjawab lugas tanpa sisi emosional sedikitpun
wew…nice one, lex…
sebagai cewe, aku juga ga setuju kl ada cowo yg bawain tas cewe. aku pribadi pun malah ga setuju kl pasangan Juli musti repot2 bawain tas aku…walaupun aku cm pake ransel dan tas selempang yg maskulin…rasanya ga pas aj, seperti rasa es campur campur lada hitam…xixixixi… :p
Naaaaaaah, kamu pake tas yang feminin dong.. lebih sreg dan indah kalau dipakai oleh wanita.
entah sejak kapan gw menganut prinsip yg mirip dgn yg lex jelasin panjang lebar di atas: kalo gw berani bawa barang berat, gw harus tanggung sendiri resikonya. so i never, never, never ever suruh pasangan utk bawain tas gw. gw yg malu. masa gandeng cowok ganteng2 tp nenteng tas dikepit. pffftttt..huahahahah
what i mean is, kalo gw biarin pasangan gw “merendah”, artinya gw rela punya pasangan yg levelnya memang rendah. and as a lady with pride, i would never hurt my man’s pride.
masalah bawain tas aja ampe heboh, lex. *pats*
cuma lex lex p*** yg bisa begini
-Rz
suka deh sama komentarnya..
Wise and lovely words, my dear.. #hugs
*kibas poni*
#hugbalik
ealah. jadi postingan gw di http://bit.ly/nNDm8n dikomengin pake ini? *GR tingkat kecamatan* haha.
makasih, om. tapi kepanjangan euy, bacanya lieur. nicely put, though
(=
Nope, saya baru tahu tulisan kamu di sana belakangan setelah posting. Kebetulan timing-nya pas.
artikel yang menarik. saya setuju dengan pendapat Anda. justru sedikit binggung kalau ada seorang wanita meminta sang pria membawakan tasnya. pertama, kalau keberatan dengan bawaannya ya salah sendiri dan tanggung sendiri kenapa bawa banyak-banyak. kedua, apa motivasi si wanita ini?pengakuan?bahwa si pria bertekuk lutut dengan si wanita ini?sejahat itukan si wanita ini?apakah si wanita benar-benar mencintai si pria? kalau tidak mencintai pria itu, janganlah perlakukan pria seperti itu dan pria harus tegas. kalau si wanita benar mencintai si pria, mana mungkin membiarkan pasangannya dipermalukan dan direndahkan dengan membawakan tas. masa pasangan Anda sendiri yang Anda cintai, kalau dicintai sih, direndahkan dipermalukan dan diremehkan dengan membawa-bawa tas Anda. bukankah itu juga berimbas ke image si wanita. kalau saya melihat foto-foto di atas sekilas bisa saya simpulkan, si pria ini tidak tegas dan si wanita sewenang-wenang. IMHO
Mari kita pulihkan lagi dinamika hubungan pria dan wanita yang sehat dalam bercinta.
Rasa-rasanya wanita masa kini terlalu banyak bergaul dengan banci, banci disini merupakan arti sebenarnya yaitu lelaki yang berlaku kewanita-wanitaan, jadi pada saat dia ketemu dengan pria yang cenderung keras,dingin, tegas, kurang sensitif malah dianggap banci. Mungkin definisi banci sudah bergeser juga.
Semoga selamat wahai generasi muda.
Pedas dan keras..
)
Banyak co rela bawain tas cwnya,.. Ga banyak cw yang sekarang mao bawa tas dan belanjaannya sendiri ^^ ,… Proud of my gf, yang mao bawa semuanya sendiri, ngga ngerepotin uih uih,..
Love and appreciate her, always..
Kok rata rata etnis cina ya
Alasannya sudah saya jelaskan di dalam tulisan itu. Namun kebiasaan ini juga sudah mulai melebar ke berbagai budaya lokal lainnya.
Humm lex.. Mnrut gw nieh yaah..
maap” klo ad kata yg tak berkenan.. u kyaknya trlalu straight dehh.. Btw, u sdg pacaran gk? Prnah dmnta ce u bwat bawain tas gk? Krn mnrut i, klo gk daa pengalaman ttg hal ini, mending survei dluu sblum post kek gnian.. Krn kn u sndri jg gk gtuu tw.. Mnrut i, u masi trmsuk pihak ke3.. Klo mnrut pengalaman gw yah, co gw lumayan sering bawain tas gw. Tp ituu dy yg maksa malah( u daa prnah nanya org” yg difoto” atas blumm? Itu atas keinginan ce mreka or mreka sndri?? ) Jd gw agk gk stju ama komen” u diats yg kesannya lbih menyalahkan pihak ce..lagian jujur yaah.. Drpd mengasihani pihak co yg membawakan tas ce nya, gw lbih kasian ama kaum kyak u (sorii bngedd yah
) yg kurang krjaan mpe ngepost kek ginian.. Bwat apa cobaa??? Yg pntg kn ce nya heppi, co nyaa hepii.. >.< Gk daa mslh kq dipermasalahinn.. Ckckkkk
Kekasih saya tidak pernah minta dibawakan tas tanpa alasan yang jelas, yakni keenam kondisi yang sudah saya tuliskan di atas. Dia sangat cerdas, berpikiran terbuka, dan juga bertanggung jawab dalam menjalani fungsi/peranannya, sebagaimana saya juga bertanggungjawab untuk fungsi/peranan saya.
Terima kasih atas komentarnya yang terbukti kurang memahami maksud tulisan saya. Silakan baca ulang, atau baca komentar saya ke Alicia dan Neo di atas.
ini apaan sih? bahasa ABG gitu, banyak bener singkatan nya. udah masuk kategori semi alay bener ini. ckckckckck
Yah…memang tidak maksa, cuman dari sisi cewe juga harus membantu utk me maskulin kan lelaki, jangan malah ditambah mem feminin kan lelaki.
dalam relationship….jangan hanya ego sendiri yg dipuaskan . seperti kata2 , “dia gak keberatan, kenapa loe mesti repot” . itu keliatan banget self satisfying.
dari 2 sisi, harus ada kesadaran masing2 utk saling menyadarkan dan membantu utk menjadi pribadi yg lebih baik
Ngangguk-ngangguk selama 15 menit saat baca blog entry ini,,
tertawa ngakak selama 30 menit saat melihat respon cewek-cewek yang merasa insecure..
LOL!
Sayangi wanita-wanita yang demikian, mereka tidak menyadari apa yang mereka bicarakan/lakukan/tuntut..
of course, setelah 11 Desember kemarin saya sudah berjanji pada diri sendiri buat menyebarkan cinta diseluruh dunia
Gw setuju bahwa saat ini standar gentleman yg dipake adalah standarnya cewe. Intinya gentleman adalah suatu sikap yg memperlakukan cewe dengan benar. Pada akhirnya cowo akan merubah sikap ketika berhadapan dengan cewe (terutama dengan pasangan, pacar ato cwe yg disukai) agar diakui gentleman. Cowo yg bantuin bawain tas ransel temannya yg nyata2 sangat berat sekalipun tidak akan pernah disebut gentleman, sementara bawain tas cewe yg isinya cmn dompet sama perlengkapan make up akan dianggap cowo yg gentleman.
Di lain pihak standar cewe yg Feminin sepenuhnya ada dipihak cewe. Makanya tidak aneh klo sesama cewe lah yg paling sering ngasih komentar soal sikap dan cara berpakaian. Bandingkan dengan cowo yg biasanya ga ambil pusing dengan cara berpakaian atau cara bersikap sesama cowo walaupun temannya sendiri
Yup benar. Nanti akan saya bahas lagi dalam entri yang berikutnya.
Km dah menikah lex? Klo belum sampe umur brp menikah?? Aapa enak sampai tua cuman gonta-ganti pasangan
ah.. out of topic lagi nih wanita yg komentar..
masih banyak sekali wanita yg masih kurang make-sense (apakah mereka pernah make sense ya? biasanya malah kita emosional sih) dan masih banyak sekali wanita yg punya ego fragile (insecure), bukannya ego yg calm dan confident.
menurut opini saya, gini,
fenomena seperti yg digambarkan didalam artikel ini sudah sering sekali kelihatan di mall2 besar saat ini loh.. ada sebabnya kenapa mungkin artikel seperti ini ditulis.
it is so real.. yes it is so real..
saya melihatnya fenomenanya sendiri didepan mata saya, namun hanya bisa geleng-geleng kepala sayangnya sih.. sambil setengah bingung, apakah kultur-nya kita semakin bergeser ke arah yang demikian? jika ya, maka sangat disayangkan..
jika iya, apakah sebenarnya yang ada dipikiran muda-muda kita ini?
jadi.. artikel seperti ini ya relevan-relevan aja.. justru terimakasih karena ada bisa pemikiran-pemikiran baru untuk generasi muda indonesia kita..
banyak pria sekarang ini sudah kehilangan jati dirinya karena bermacam-macam sebab di era kontemporer (era sekarang) ini..
jadi menurut opini pribadi saya, memang perlu diadakan dukungan gerakan-gerakan revolusi pria baru supaya ada pembaruan jati diri bagi pria-pria di sekitar kita..
karena nantinya di masa depan, pria-pria ini akan menjadi calon-calon figur ayah (role model) bagi anak-anak laki generasi penerus kita.. dan para wanita ini juga nantinya akan menjadi calon-calon figur ibu (role model) bagi anak-anak wanita generasi penerus kita..
kita mestinya tahu, pria yg akan memimpin sebagai fasilitator dan penentu arah keluarga.. dan wanita yg harus mendukungnya sebagai pasangan yg sama-sejajar yg juga menghormati role dari pria.
bukannya lalu lantas kita “men-copy paste role salah satu gender” kedalam diri pasangan kita yg dari gender berbeda, yaitu dengan “men-copy paste peranan/role si wanita” kedalam dirinya/perannya si pria -maupun juga sebaliknya.. ( seperti yg sudah terlihat jelas di foto-foto di artikel ini.. si pria mencangklong tas wanita.. )
jaman sekarang ini nyatanya sudah hampir hilang jati diri siapa itu pria dan siapa itu wanita.. lalu siapakah yang bertanggung jawab?
ya kita semua.. pria dan wanita-nya..
masing-masing peran (role) dari pria-wanita ideal-nya itu saling memberikan kesempatan satu sama lain untuk memaksimalkan potensi diri satu sama lainnya sesuai dengan peranan masing-masing, tentunya bagi kebaikan untuk generasi pria-dan-wanita berikutnya..
jadi instead of kita se,ua ngeributin kebenaran sudut andang artikel ini, kenapa tidak kita nya yang mulai dengan rendah hati berpikir sekali lagi: apakah kita semua ini sebenarnya sudah mulai “clueless”/”kebingungan” akan peranan dan jati diri gender kita masing-masing, sehingga ide-ide baru seperti ini bisa bermunculan?
so, bagi kamu, penulis artikel, teruskan ya pesan-pesan baru-nya!
from my experience,
kritikus2 itu biasanya sangat jarang yg bisa bikin ide-ide baru..
tetapi kamu (penulis), tentu berbeda, kamu sudah berkreasi dan berkontribusi dengan mengeluarkan ide-ide baru seperti ini!
terima kasih sudah sharing idenya ya!
Mieke, thank you telah ikut berbagi pendapat.. Terus sebarkan budaya open-mindedness ini kepada rekan-rekan wanita lainnya. #hugs
Tania, saya belum menikah. Dan hubungannya dengan artikel ini adalaaaah?
Jaka Sembung Naek Ojek…….Gak Nyambung Jekkkkkkkkk
dari artikel mengenai maskulin yg di feminin kan , jadi ke hubungan udah married atau blom #TepokJidat, hehehehehe
Kalau saya tergantung pada apa dan kapan jika hanya tas wanita dan bukan menjadi beban yg bagi pasangan kita tidak perlu dibawakan karena kesannya berlebihan dan kurqang pantas
IMO, ini artikel bagus tentang sesuatu yang absurd.
Tapi juga superficial. Maksud saya, fenomena ngebawain tas ini bukan sesuatu yang ada begitu saja karena ‘duh kasiannya kamu, sini kubawain biar kamu nggak berat’; tapi keputusan yang dihasilkan dari pertimbangan2 rumit. this is love game, everyone needs a tactic. termasuk skenario ‘saya bawa tas, saya perlu pencitraan supaya saya punya image sebagai most wanted girl who doesn’t date a jerk’ dan skenario : ‘i have a girlfriend; if carrying her purse means all the image she wanted and that image leads to sex, why not?’.Jujur saya nggak ngerti kenapa hubungan (pacaran) sekarang lebih rumit daripada skenario Final Fantasy.
Persetan dengan semua norma/setting ketimuran yg begini-begitu; hubungan yang sehat nggak berjalan berdasarkan aturan APAPUN selain aturan yang mereka buat sendiri, dan aturan2 itu nggak superficial.
Peran masing2 gender itu juga overrated; cowok terlalu paranoid dan cewek terlalu agresif [plus masih asik ngeloni zona nyamannya].Harusnya, kalo kesetaraan gender itu ada beneran, nggak ada cewek merengek plus mengultimatum untuk urusan antar-jemput dan cowok juga nggak akan bereaksi bikin blog post beginian tentang cowok bawain tas cewenya.
Menurut saya lho ya, akar masalahnya ini bukan soal peran antar gender ato boro2 pencitraan tapi soal identitas diri masing2.Cewek yang udah punya identitas diri yang jelas&kuat (dan ngerti beneran apa itu emansipasi), nggak bakal nyuruh2 cowonya bawain tas (apalagi tasnya imut2 gitu; ato gede, tapi isinya tisu,sisir, bedak dan lipen doang).Cowok yang identitas dirinya jelas/kuat nggak bakal keberatan ngebawain tas cewenya kalo si cewe kebetulan tangannya dua dan lagi riweuh pisan gendong anak, bawa barang2 si anak dan di tas itu ada dompet,uang, HP, dsb; yg rasanya lebih aman dibawain cowonya.
Maap panjang.
Memang. Justru saya mengomentari ini karena saya berangkat dari perspektif love games, hanya saja games itu perlu dilakukan dengan lebih aware dan fair dari kedua belah pihak. Masalahnya adalah ada banyak kaum wanita yang menganggap love is NOT a game, dan mengajukan tuntutan ‘bawain tas’ itu BUKAN sebagai salah satu games melainkan sebagai tuntutan yang memang alamiahnya begitu.
Ini sederhana sekali kok, Terlihat rumit karena saya perlu menjelaskan latar belakang. Dan satu lagi yang membuat agak sedikit lebih rumit: concern saya adalah menciptakan kondisi yang baik dan sehat untuk sebuah hubungan cinta yang jangka panjang, bukannya soal seks belaka. Makanya perlu ada beberapa pertimbangan tambahan dalam memainkan games tersebut, seperti tentang fungsi dan peranan ‘energi’ dalam berinteraksi. Dibanding skenario Final Fantasy, jelas hubungan yang sehat itu lebih kompleks. Final Fantasy kan sebuah entertainment, sedangkan romansa dan cinta itu hanya sekian persennya saja yang bersifat entertainment.
Setuju, memang seharusnya demikian. Namun dunia sekeliling kita tidak semudah itu langsung mengadopsi pola pikir tersebut, jadi perlu proses.. dan tulisan ini cuma secuil dari proses panjang tersebut.
Ya, tepat sekali. Apa yang kamu tuliskan itu memang persis dengan apa yang saya tuliskan di atas.
Anyways, kamu tidak dimaafkan.. karena kamu tidak buat salah kok.
Hi Lex, tadinya mau buzz kamu di YM aja, tapi enakan disini deh, biar makin banyak orang yang dapet ‘love education’ *halah*
“Masalahnya adalah ada banyak kaum wanita yang menganggap love is NOT a game, dan mengajukan tuntutan ‘bawain tas’ itu BUKAN sebagai salah satu games melainkan sebagai tuntutan yang memang alamiahnya begitu. ”
Hmm,menurut saya sih, cinta/relationship memang bukan mainan. Tapi juga bukan sesuatu yang layak dijadiin alasan mati konyol. Sekarang misal ‘bawain tas’ itu diganti ‘mencari nafkah’ ato ‘breadwinner’; rasanya ya jadi balik lagi ke peran gender yang overrated itu.Saya malah nggak pernah ngeliat cowok bule bawain tas cewenya. Pun cewenya nggak ada yang punya sederet aturan ‘Kamu harus begini begitu yaddayadda supaya kamu jadi gentlemen!’. Fun Fearless Female ini konsep yang salah kaprah di Asia, terutama di Indonesia. Kultur Asia nggak pro-perempuan. Dus, begitu beauty magazine mengkampanyekan Fun Fearless Female, cewek2 yang kotaan ato gaul ato yang mau punya predikat ini, nelen bulet2 konsep Fun Fearless Female yang conceiver nya pun udah salah (beauty magazine?SRSLY). Fun Fearless female yang seharusnya diterjemahkan sebagai ‘cewek dan cowok sama aja’ jadi diartikan sebagai ‘cowok jadi budaknya cewek’. Dan ini udah salah banget. Hubungan antar gender yang sehat, nggak ada budak-budakan. Saya dan situ sama aja posisinya.Karena kesalahkaprahan ini, plus conceiver konsepnya juga majalah gaya hidup, jadilah melebar kemana2 yang sebenernya kalo dipikir secara logis, fenomena bawain tas dan pro-kontra nya jadi konyol banget.It’s only a bag! Bukan karung beras 100kg! Lagian ada gitu cewe jalan2 bawa karung beras? Atau, kalo emang nantinya bakal ribet, ngapain bawa tas? Dompet lipet yang diselipin di saku kan bisa. Praktis.
“Dibanding skenario Final Fantasy, jelas hubungan yang sehat itu lebih kompleks. Final Fantasy kan sebuah entertainment, sedangkan romansa dan cinta itu hanya sekian persennya saja yang bersifat entertainment.”
Agree. Hubungan yang sehat itu kompleks, dan butuh kesetaraan mindset diantara pelakunya. Nggak bisa timpang. Kalaupun udah nggak timpang, proses negosiasinya pun makan waktu bertahun2. Saya (kami, maksudnya) menghabiskan waktu 4 tahun buat nego:’Taro pakaian kotor di ruang cucian ya’ dan ‘Kamu naik mobil aja pake supir, jangan suka naik motor sendirian’, dan sampe detik inipun belum berhasil.Tapii..saya rada nggak setuju kalo romansa itu hanya dikit banget sifat entertain nya. Kalo pasangan bisa jadi BFF kita, lumayan entertaining kok. Yaa..minus adegan kejar2an pake chainsaw sih.
Balik lagi ke soal tas, seharusnya cewek2 itu nggak perlu bawa tas IMO.TOh kebanyakan cewek isi tasnya begitu2 aja. Perlengkapan touch up, dan sebenernya apa itu perlu? Pacar jalan sama kita bukan mau ngeliat cewek cakep doang, tapi juga nyari temen seru2an. Setidaknya, ini pendapat subjektif dari seorang cewek menikah yang kalo bawa tas pas jalan,suaminya suka nitip2 barang di tasnya [tanpa ngebantuin bawain.and there's no problem at all]
Cheers!
Sebuah BELIEF yg menarik utk disimak chief
Hi Lex, akhirnya nyampe ke sini juga…
Well, seperti halnya temen-temen yang lain, ada hal yang bikin saya manggut-manggut setuju, ada yang eumm… saya punya pandangan yang berbeda. Di satu sisi saya juga risih ya kalau tas saya dibawa oleh pasangan. Tapi di sisi lain, setiap orang punya alasan mengapa itu tas dibawain..
Ada yang karena cowoknya pengen keliatan gentle…
Ada yang memang kasian ceweknya, dia lagi sakit jadi dia kesadaran aja bawain tas si cewek
Ada yang itu istrinya lagi hamil, gak boleh bawa berat2, jadi pas kondisi lelah itu tas dibawain sampai ke mobil atau tempat duduk
dan begitu banyak alasan lainnya…
Terlepas dari alasan masing-masing personal, pesan saya kepada cowok-cowok di seluruh penjuru dunia, “jangan lakukan hal itu hanya karena ingin mencari perhatian dan pujian dari kami. It may not be worth it”
Xoxo,
Bee
setuju…..
membawakan tas cw itu bkn untuk cari perhatian ato cari sensasi tapi emang dasarnya mw ngebantu (kl cari sensasi / perhatian kan namanya ngarep lol )
Kesimpulan singkat, bagi cewek2 bernada insecure tentang tulisan diatas, antara keburu cowoknya suka bawain tas (cek kapan terakhir cowok kamu bawain tas, kemarin malem?) (Inget2 dulu br lanjut baca) akhirnya jadi merasionalkan hal tsb, atau calon cowoknya bakal disuruh begitu.. Masih ada kemungkinan yg lain sih, ngerasa cowoknya kalah keren sama David Beckham bahkan dimata dia sendiri sehingga berpikir kalo beckham begini berarti cowok gw wajar dong begitu (catet, skandal dia juga banyak kok.. Pertanda happy sama istrinya itu H.DavidBeckam? Panutan? *cekikikan).. Dan bla bla bla sebagainya..
Yess.. Sekali lagi, orang benci gw karena kata2 gw benar..
Cheers,
Mr. Kai
pria pengertian itu..hehe…
. ijin baca2 boz…
shocking berantakan..
ada benernya juga sie. kalo mau ngebantu pasangan bawain tas dll. musti liat kondiinya juga. ga harus selalu!
Bagaimana kalau situasinya saya lagi berjalan bertiga misalnya saya, calon istri & calon ibu mertua saya & salah satu dari mereka berdua menyuruh saya membawakan tas atau barang2 belanjaan mereka. lalu bagaimana sikap & tindakan saya? jika saya menolak saya takut mencerminkan bukan calon menantu yg baik dimata calon ibu mertua saya
Kalau kamu dan kekasih sebelumnya sudah terbiasa untuk membawa barang-barang sendiri (kecuali ada kondisi yang memang masuk akal untuk dibantu), maka sang kekasih lah yang pasti akan menolak permintaan ibunya yang meminta tolong dibawakan. Dia yang akan menjelaskan ke ibunya. Kamu tidak perlu pusing.
sesangar-sangarnya cowok, kalo sudah disuruh bawain tas ama si cewek. pasti dah dia klepek-klepek… turun derajatnya kalo gitu… wkwkwkwk
untung aku gak pernah disuruh bawain tas ama cewekku… soalnya cewekku juga pengertian ke aku… hehehe
semangat dah buat para cowok yang dengan susah payah membawakan tas ceweknya…
Good, disayang ya kekasihnya.. she’s a fair and wonderful person.
ogah ah bawain tas cewe… kayak banci gituuuuuu
personality Mr. Bean menurut saya masih lebih gentleman daripada cowok-cowok yang ada di foto2 tersebut
Nice share lex
Wah setuju banget tuh,,
Cukup bantu kalo memang mereka butuh bantuan jadi tidak terkesan kita menyodor nyodorkan diri
Hai Lex.
My husband brings my lady-bag like all the time whenever we’re at the mall. I dont have to ask him to do that, he’ll just do it automatically.
One day I got a new bag which I love very much, and when we were at the mall, I insisted to bring that bag by myself. You know what he said to me? “Bunda gaya…. Mentang-mentang tasnya baru, gak mau dibawain…..”
Aku sendiri juga gak tau kenapa Suamiku mau-mau aja ngebawain tas-ku. Mungkin kalo dianalisa secara random, tasku yang dia bawa itu menjadi semacam tameng yg membuat wanita lain enggan melirik dirinya.
Melirik tasku sih mungkin. Tapi kurasa wanita manapun bakalan ilfeel melihat pria yg membawa tas wanita., hehehe….. Yah, i just wanna share my point of view.
Hai Ndutyke (susah ya manggilnya, hehehe),
Sah-sah saja kok jika suami Anda bersikeras membawakan lady-bag sekalipun Anda sudah menolaknya. Mungkin ada kebahagiaan tersendiri baginya jika bisa terus-menerus membuktikan diri seperti itu. Mungkin dia merasa dirinya lebih berharga jika melakukan hal tersebut. Mungkin dia memang kelewat baik dan lembut. Mungkin juga seperti yang Anda duga, yakni dia ingin menamengi dirinya dari wanita-wanita lain. Mungkin ini, mungkin itu. We’ll never know for sure.
Yang jelas saya berharap sikapnya tersebut bukanlah salah satu dari segudang kebiasan lain yang mengaburkan/melemahkan peranan sebagai sosok maskulin dalam rumah tangga.
Anyways, kalau bisa coba dibujuk-rayulah dia supaya ga terus ngebawain seperti itu. Ajak diskusi santai. Tapi kalau dia keras kepala, ya sudah pasrahkan.. Kadang-kadang beberapa pria memang harus melakukan hal yang konyol untuk merasa jadi pria beneran.
Wish you guys all the best, dear!
Thanks for the reply
mulai sekarang kayaknya there’ll be no moment where he’ll brings my bag anytime deh (kcuali saat bener2 dibutuhkan). Krn dia sdh beli tas selempang sendiri (gentlemen’s bag, I swear!) dan buatku: kayaknya aneh aja (aneh dr sisi fashion) kalo dia nyangklong 2 tas sekaligus, hehehe.
Thank you lex.
yah memang sangat miris sekali melihat para lelaki/pria/lanang/cowok membawakan tas2 imut kekasih tanpa alasan yg kuat. Sampai2 saya sendiri tidak bisa membayangkan bagaimana jika ketika mereka sedang jalan2 di pusat2 perbelanjaan tradisional ataupun modern sehabis pulang dari camping di hutan (wana wisata alam). tentunya mas Lex bisa membayangkan, bakalnya tas jenis apa yg dibawa oleh kekasih2 dr para pria2 tsb. Apakah masih mau membawakan?. yg lebih miris lagi kok masih ada tanggapan2 yg secara tidak langsung maaupun langsung dr penjelasan sampeyan diatas menyatakan bahwa mereka (yg mana dlm hal ini adalah para kodew/wedok/wanita) sangat terganggu dgn hal tsb.
satu2nya yg bisa saya syukuri pada saat ini dlm menanggapi posting cak Lex diatas adalah “Untung saya mbujang”
Wah lama juga nih buat cerna artikel lex ini. Gw jd penasaran, how will your wife looks like?
dan comment2 diatas bikin gw ketawa, ngangguk2, or kerutin dahi wkwkwk.. Kalo gw pribadi sih, ngga mau tas gw dibawain sm cowo. Prefer bawa sendiri.
Lagian isi tas juga palingan hp, dompet, tissue, lipbalm, kunci rumah, sisir. Palingan itu doank, ngga berat banget lah. Ngga etis banget suru cowo bawa. Mendingan dia beliin gw tas baru drpd bw tas gw huahahaha… N klo jalan bareng cowo, palingan nonton, dinner, ke toko buku, atau wisata alam hahaa. Kalau shopping mendingan gw berdua sama mama aja lebih bebas wkwkw..
So, girls, please stop manja2 ngga jelas kalau ngga punya alasan yg jelas juga. N boys, stop manja2in cewe kamu atau sok2 baik mau bawain tas cewe kamu. Kalau mau najain kita, mending langsung kasi tiket PP berdua ke paris. Hahahaha *ngarep* ya udah sekian dulu bawel2 saya. Thanks a lot for the article Lex!
Mengapa tulisan “ladies and gentlement”
“ladies”nnya di pakai didepan ya?
bukankah itu berarti kalau pria itu sekarang sudah dikebelakangkan?
thanks tulisannya menghibur sekali
nambahin lagi ahhh..
jangan terlalu keras deh dengan cowok-cowok yang bawa tas cewek itu.
siapa tau mereka terpaksa. siapa tau mereka sebenarnya adalah supir atau pembantu ganteng yang lagi diajak jalan sama majikannya. kaya di FTV-FTV gitu.
hahahaa..
Cowo yg bawain tas cewe nya itu cowo berjiwa porter…
Jiwa sosialnya tinggi tuh #lol
jiwa SOSIAL yah bukan SOSIALITA hahaha
Dulu pacar pernah sekali minta dibawakan karena berat, tapi gue tolak, akhirnya gue cuma bawa tas kresek lainnya yang ringan. Waktu itu gue sendiri ngga tahu kenapa nolak, ngerasa nggak pantas aja.
Dan sekarang setelah baca artikel ini, gue langsung tunjukkin ke sang pacar. Dia pun mengangguk setuju
Everyone has their own way to enjoy their live…
Appreciate it..
Inilah zaman emansipasi pria dimana pria punya hak untuk ber emansipasi dalam hal2 yg bersifat feminisme hehe..but anyway saya kurang setuju dng pria yg seperti itu. Masih banyak cara untuk memanjakan pasangan kita lah..Of course materi is number one. Wanita mana yg tidak ingin dimanjakan oleh materi coz pria nya adalah pria mapan dan ber attitude baik pula..What a lucky girl! But aniway sometimes untuk konyol2an or joking boleh2 aj sih hehe as bro Lex said, asal jng sering2. Toh konyol2an itu kan bagian dr romantisme jg..Sorry ikut nimbrung nih..Lam kenal Lex!
Whoa… Interesting article… Ya saya semakin sering nih melihat fenomena ini. Secara pribadi, dan sebagai cewe rasanya memang agak berlebihan sih… Menurut saya, tas itu adalah hal yg bersifat pribadi dan isinya (dompet, HP, kunci mobil, etc) adalah hal2 pribadi yang memang seharusnya tidak boleh dipegang orang lain. Sebagai contoh.. And sebelumnya saya minta maaf untuk bahasanya… Kalau seorang cewe sedang haid, masa dia merogoh2 tas nya dia yang sedang dibawa cowonya untuk ambil pembalut… Agak memalukan ga sih?
Soal masalah gentleman itu menurut saya artinya adlah si cowo bersikap peduli dan caring terhadap orang lain bukan cuma sama cewenya. Of course, dia akan beri perhatian lebih pada cewenya tetapi kalau dia masih aware sama lingkungan sekitarnya, seperti mungkin membantu membukakan pintu untuk orang lain, atau memberi tempat duduk untuk orang yang lebih tua, itu namanya gentleman. Kemarin ini saya membaca buku ttg romance… Katanya, cowo itu senang merasa bahwa dirinya chivalrous dan itu dicapai lewat keinginannya untuk traktir makan
Hmm… I think thats all… Wonder what you guys have to say to it….
kalo bawain tas istri gimana Lex? tapi ya ngga sampai segitunya seperti gambar-gambar diatas, bawanya juga beda, ngga dipundak tapi tetep dipegang talinya dengan tangan dan cuma beberapa saat saja hehehe
menurut saya sih tetep tergantung cewe nya jg, masa mau cowo nya kelihatan ‘feminin’
tetapi tetep harus bantuin dong kalo emang perlu hehe
setuju gan …
kalo ada cowok yang bawain tas cewenya dia itu bukan jentel man …
lagian juga kalo kita di suruh ama cewe harusnya jangan mau …
emangnya kita budak …
ntar kalo kita udah nikah …
terus ntar istri malah kadi beban buat kita, terus kita merasa nggak nyaman ama dia, dan berakir dengan PERCERAIAN…
IMO, tas cewe ya wajib dibawa sama cewe, tas cowo ya wajib dibawa sama cowo. Unless, sang cewe meminta bantuan tolong bawain barang-barang yg dibawa cewe menurutku masih gak masalah selama itu sungguh berat dan banyak. contohnya, 3 hari lalu saya belanja di kota kembang beli oleh-oleh dan gitar. Barang belanjaan saya menurut saya terlalu berat dan banyak. Saya minta tolong sang cowo bawakan gitar daripada bawa belanjaan oleh oleh, yang padahal lebih berat belanjaan shopping & tas ketimbang Gitar. Saya tidak mau sang cowo terlihat jadi kurang macho dibandingkan dengan saya, tapi saya juga tidak mau sang cowo DICIBIR oleh orang orang dikarenakan TIDAK MEMBANTU memBAWAkan barang barang padahal sang cewe bawa banyak barang dan berat.
jadi saya juga memikirkan HARGA DIRI sang COWO dimata orang lain.
Menurut saya juga, cewe kalau memang mau minta bantuan cowo untuk bawain tas mu, ya mbok tolong diliat bentuk dan fisik dan warna tasmu… masa iya sih tas feminim gitu yang bawa cowo… ntar cowo Anda bisa bisa jadi “heeey cyiiin….”.
Yah… lagi-lagi kecuali kamu sedang hamil tua, belanjaan ditangan sungguh banyak (ingat… kasih belanjaan ke cowonya, jangan tas kamu nya), kamu sedang di wheel-chair / kalau jalan pakai tongkat.
Kalau tasmu itu bentuknya ransel, gak ada unsur cewe2nya dan sungguh berat, ya bolehlah yaaah yg jadi cowonya tolong bantuin bawain.
Remember this:
Pria, tolong hargailah wanita sebagaimana mestinya: yang butuh kasih sayang, perhatian, perlindungan,dan pertolongan dari pria meskipun dia wanita yang kuat, tegar dan mandiri.
Wanita, tolong hargai dirimu dan berlakulah selayaknya wanita didepan pasanganmu meskipun kamu tahu kamu lebih kuat dari nya. jangan segan-segan mengutarakan perasaanmu dan meminta bantuan pria karna pria pun ingin dimintai tolong oleh wanita agar dirinya berarti.
#SelfTalk
ahahaha… OOS nih…
sorry ko Lex.
asiiikkkkk,,,,,,
hahaha,,,,
gimana neh law cewe yang bawa mtor di depan,,,,
kebanyakan begitu yang sering di liat di indonesia,,,,
Tulisan yang menyadarkan dan membongkar paradigma…Salut Lex.
Oh ya, mungkin Lex sudah lupa pernah nulis komentar di blog saya. Komentar itu saya jadikan testimoni untuk blog saya, lengkap dengan foto Lex yang gentlemen tentunya
wah
gila ngerasa ngedrop harga diri kalau disruh bwa tas cewe
mana kecil pink bunga bunga lagi tidakkkkk
hahaha
untung cwe gw gak gitu kalau gitu frustasi deh gw -___-